Welcome teman-teman Farmakose !!!!

Selamat datang kami ucapkan pada anda para farmasist muda calon-calon apoteker. hehehe

Jumat, 29 Oktober 2010

Contoh laporan PKL

Laporan Lengkap Praktek Kerja Lapang Farmakognosi I

PEMERIKSAAN SIMPLISIA BANDOTAN(Ageratum conyzoides), DAN ETNOFARMASI TANAMAN ASAL DESA UJUNG BORI KECAMATAN POLSEL KABUPATEN TAKALAR PROVINSI SULAWESI SELATAN


 


 



 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

LABORATORIUM FARMAKOGNOSI

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

MAKASSAR

2010


 


 


 


 


 


 


 


 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

    Dari zaman dahulu sampai sekarang ini, zaman era globalisasi. Daerah di Indonesia khususnya di dataran rendah. Pada penelitian ini lebih menekankan pada bagian tumbuhan yang digunakan sebagai obat.

    Berbagai metode pengobatan pun tersebar di Indonesia bahkan hingga ke mancanegara. Metode pengobatan ini meliputi pengobatan tradisional ataupun pengobatan modern,khususnya bagi pengobatan modern ini telah dikembangkan dalam bidang kedokteran dan farmasi yang telah menciptakan bahan-bahan pengobatan yang akan digunakan bahkan tidak sedikit pengobatan secra tradisional maupunmodern menimbulkan efek samping, sehingga dari hal inilah memaksa manusia untuk kembali ke alam mengolah tanaman sebagai tanaman obat dalam proses penyembuhan suatu penyakit.

    Tumbuhan merupakan gudang berbagai jenis senyawa kimia serta beragam jenis sifat atau ciri-ciri yang dimilikinya yang dimanfaatkan sebagai suatu tumbuan obat. Hal semacam ini mempunyai hubungan yang baikdengan objek yang dituju dalam hal ini manusia yang kemudian dimanfaatkan untuk dikembangbiakkan atau dibudidayakan sebagai suatu usaha atau bisnis tumbuhan obat yang dapat mendatangkan banyak keuntungan serta memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat khususnya sebagai konsumen.

    Beragam upaya dilakukan dalam pencarian tumbuhan berkhasiat obat dimulai dari mengidentifikasi kandungan zat kimia apa di dalamnya serta bentuk morfologi dari tumbuhan tersebut yang memberikan cirri khas. Namun,tidak semua pula tumbuhan berkhasiat yang memberikan ciri khas itu dapat dikategorikan sebagai tumbuhan berkhasiat obat.Dewasa ini penelitian dan pengembangan tumbuhan obat baik didalam maupun diluar negeri berkembang pesat. Penelitian yang berkembang, terutama dari segi farmakologi maupun fitokimianya penelitian dilakukan berdasarkan indikasi tumbuhan obat yang telah digunakan oleh sebagian masyarakat dengan khasiat yang teruji empiris.

    Penggunaan obat-obatan walaupun dalam bentuk yang sederhana tidak diragukan lagi sudah berlangsung sejak jauh sebelum adanya sejarah yang ditulis karena naluri orang-orang primitif untuk menghilangkan rasa sakit pada luka dengan merendamnya dalam air dingin atau menempelkan daun segar pada luka tesebut atau menutupinya dengan Lumpur, hanya berdasarkan pada kepercayaan. Orang-orang primitif belajar dari pengalaman dan mendapatkan cara pengobatan yang satu lebih efektif dari yang lain, dari dasar permulaan ini pekerjaan terapi dengan obat dimulai. Namun seiring dengan berkembangnya zamanpenggunaan obat-obatan sudah mulai memasuki tahap modern misalnya dengan menggunakan alat-alat canggih akan tetapi penggunaan obat secara primitif tidak boleh dilupakan karena dari sinilah awal semuanya.

    Dalam pelaksanaan kegiatan Praktek Kerja Lapang ini bertujuan mencari tanaman obat yang berkhasiat. Keampuhan pengobatan herba banyak dibuktikan melalu berbagai pengalaman, Berbagai macam penyakit yang sudah tidak dapat disembuhkan melalu pengobatan alopati (kedokteran), ternyata masih bisa diatasi dengan pengobatan herba, contohnya penyakit kanker dan kelumpuhan. Adapula pengalaman yang membuktikan bahwa untuk beberapa penyakit, ternyata pengobatan herba lebih efektif memberikan solusi penyembuhan dibandingkan dengan pengobatan menggunakan bahan kimia. Beberapa penyakit tersebut diantaranya penyakit-penyakit cardiovascular (penyakit yang berhubungan dengan darah dan jantung) serta enyakit saraf. Keunggulan pengobatan herba terletak pada bahan dasarnya yang bersifat alami sehingga efek sampingnya dapat ditekan seminimal mungkin, meskipun dalam beberapa kasus dijumpai orang-orang yang alergi terhadap herba. Namun, alergi tersebut dapat juga terjadi pada pengobatan medis. Beberapa kasus menunjukkan bahwa sebagian orang alergi atau timbul penolakan terhadap obat-obat tertentu.

1.2    Rumusan Masalah

Bagaimana cara pemeriksaan farmakognosi yang meliputi pemeriksaan morfoloogi, anatomi,organoleptik, dan Identifikasi kandungan kimia tumbuhan Bandotan (Ageratum conyzoides).

1.3   Maksud Praktikum

Untuk mengetahui dan menentukan cara identifikasi pada tumbuhan Bandotan (Ageratum conyzoides), berdasarkan bentuk anatomi,morfologi dan Identifikasi kandungan kimia.

1.4   Tujuan Praktikum

a. Mendeskripsikan kandungan kimia tumbuhan Bandotan (Ageratum conyzoides)

b. Mendeskripsikan khasiat tumbuhan Bandotan (Ageratum conyzoides)

c. Mendeskripsikan cara memanfaatkan tumbuhan Bandotan (Ageratum conyzoides) sebagai obat

d. Mendeskripsikan efek samping dari penggunaan tumbuhan Bandotan (Ageratum conyzoides)

1.5 Manfaat Praktikum

Sebagai dasar member informasi yang jelas tentang tumbuhan bandotan (Ageratum conyzoides)
dan cara pemanfaatannya dalam berbagai bidang sebagai tumbuhan obat tradisional.

1.6 Kontribusi penelitian bagi IPTEK

Dengan melakukan penenlitian mengenai tumbuhan Bandotan (Ageratum conyzoides)
diharapkan masyarakat mengetahui manfaat dari tumbuhan Bandotan (Ageratum conyzoides) dan seiring berkembangnya IPTEK diharapkan semakin banyak manfaat dari tumbuhan Bandotan (Ageratum conyzoides) yang didapatkan sehingga penggunaannya semakin meluas.


 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Tentang Tanaman

2.1.1 Sistematika Bandotan ( Ageratum conyzoides)

Kingdom     : Plantae (tumbuhan)

Super divisi    : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi        : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas        : Magnoliopsida (Berkeping dua/dikotil)

Sub Kelas    : Asteridae

Ordo        : Asterales

Famili        : Asteraceae

Genus        : Ageratum

Spesies        : Ageratum conyzoides L.

2.1.2 Nama Daerah Tanaman Bandotan (Ageratum conyzoides L.)

Adapun nama daerah dari tanaman bandotan yaitu Sumatera: bandotan,daun tombak,siangit,tombak jantan,siangik kahwa,rumput tahi ayam. Jawa: babadotan,bandotan leutik,babandotan,bandotan beureum,bandotan hejo,jukut bau,ki bau,bandotan,berokan,wedusan,dus wedusan,dus bedusan,tempuyak. Sulawesi: dawet,lawet,rukut manooe,rukut weru,sopi.

2.1.3 Morfologi Tumbuhan

Ilmu tumbuhan saat ini telah mengalami kemajuan yang demikian pesat, dari berbagai cabang ilmu tumbuhan yang sekarang telah berdiri sendiri adalah morfologi tumbuhan mempelajari tentang morfologi luar atau morfologi dalam arti yang sempit, yang selain memuat tentang istilah-istilah yang lazim dipakai dalam ilmu tumbuhan, kususnya dalam taksonomi tumbuhan, sekaligus juga berisi tuntunan bagaimana caranya mencandra (mendeskripsi) tumbuhan. Morfologi tumbuhan disini lebih menjelaskan tentang bagaimana bentuk batang,daun,akar,ataupun buah dari suatu tumbuhan, jadi, hanya akan menyangkut dua golongan tumbuhan yaitu: Pteridophyta (tumbuhan paku) dan Spermatophyta (tumbuhan biji). Rupanya morfologi tumbuhan tidak hanya menguraikan bentuk dan susunan tubuh tumbuhan saja, tetapi juga bertugas untuk menentukan apakah fungsi masing-masing bagian itu dalam kehidupan tumbuhan, dan selanjutnya juga berusaha mengetahui darimana asal bentuk dan susunan tubuh yang demikian tadi. Selain dari itu morfologi harus pula dapat memberikan jawaban atas pertanyaan mengapa bagian-bagian tubuh tumbuhan mempunyai bentuk dan susunan yang beraneka ragam tersebut (Gembong,1999).

2.1.4  Anatomi Tumbuhan


Pengetahuan tentang anatomi tumbuhan adalah ilmu yang merangkum uraian organ, susunan, bagian, atau fungsi dari organ tumbuhan itu, pemeriksaan ini bertujuan untuk mencari unsur-unsur anatomi serta fragmen pengenal jaringan serbuk yang khas, guna mengetahui jenis-jenis simplisia yang diuji berupa sayatan melintang, membujur atau serbuk dari tanaman

2.1.5    Kandungan Tumbuhan

Herba Bandotan mengandung asam amino organacid, pectic substance, minyak atsiri, kumarin, ageratochromene, friedelin, β-sitosterol, stigmasterol, tanin, sulfur, dan potassium klorida. Akar mengandung minyak atsiri, alkaloid, dan kumarin.

2.1.6    Kegunaan Tumbuhan

Khasiat Bandotan adalah sebagai stimulan, tonik, pereda demam (antipiretik), antitoksik, menghilangkan pembengkakan, menghentikan perdarahan (hemostatis), peluruh haid (emenagog), peluruh kencing (diuretic), dan peluruh kentut (kaiminatit),mengobati malaria, sakit tenggorokan, radang paru (pneumonia),radang telinga tengah,diare,disentri,mulas,muntah,perut kembung,keseleo,pegal linu. Daun Bandotan dapat digunakan pula sebagai insektisida nabati. Akarnya berkhasiat untuk mengatasi demam. Herba bandotan ini berasa sedikit pahit,pedas,dan bersifat netral.

Setelah melakukan penelitian didapatkan fakta bahwa di daerah Sulawesi khususnya di Takalar tumbuhan bandotan ini digunakan sebagai obat luka dan di daerah lainpun yaitu di Bogor memanfaatkan tumbuhan ini sebagai obat luka pula.

2.1.7    Bioaktifitas Tumbuhan

Berdasarkan penelitian terhadap tumbuhan bandotan ini, terdapat kandungan kimia yang utama yakni minyak atsiri dan tanin. Dimana ekstrak daun Bandotan (5% dan 10%) dapat memperpanjang siklus birahi dan memperlambat perkembangan folikel mencit betina. Namun tidak berefek pada uterus, vagina dan liver. Setelah masa pemulihan, siklus birahi dan perkembangan folikel kembali normal. Tidak ada perbedaan efek antara mencit virgin dan non virgin selama perlakuan.

Ekstrak daun bandotan dalam minyak kelapa dosis 20 % tidak memberikan efek penyembuhan luka.Namun pada dosis 40% dan 80% dapat menyembuhkan luka secara nyata sesuai dengan peningkatan dosis. Bahkan efek penyembuhan luka pada dosis 80% tidak berbeda nyata dengan yodium povidon 10%.

2.2 Tinjauan Tentang Pemeriksaan Farmakognostik

        2.2.1    Pengertian dan sejarah Farmakognosi

Istilah Farmakognosi pertama kali dicetuskan oleh C.A. Seydler (1815), seorang peneliti kedokteran di Haalle Jerman, dalam disertasinya berjudul Anelecta Pharmacognostica. Farmakognosi berasal dari bahasa Yunani, pharmacon yang artinya "obat" (ditulis dalam tanda petik karena obat disini maksudnya adalah obat alam, bukan obat sitetis) dan gnosis yang artinya pengetahuan. Jadi farmakognosi adalah pengretahuan tentang obat-obat alamiah (Sri mulyani, dkk, 2004).

Farmakognosi mencakup seni dan pengetahuan pengobatan dari alam yang meliputi tanaman, hewan, mikroorganisme dan mineral. Keberadaan farmakognosi dimulai sejak manusia pertama kali mulai mengenal penyakit, seperti menjaga kesehatan, menyembuhkan penyakit, meringankan penderitaan, menanggulangi gejala penyakit dan rasa sakit, serta semua yang berhubungan dengan minuman dan makanan kesehatan (Gunawan, 2004).

Namun mereka tidak sadar bahwa yang diketahui itu adalah bidang dari farmakognosi. Merekapun ytidak mengetahui kalau bahan-bahan yang berbahaya seperti minyak jarak, biji saga (sogok telik) dan tempe bongkrek (avlatoksin) merupakan bagian dari pembicaraan farmakognosi. (Sri mulyani, dkk, 2004).

Pada awalnya masyarakat awam tidak mengenal istilah "farmakognosi". Oleh karenanya, mereka tidak bisa menaikkan farmakognosi dengan bidang-bidang yang berhubungan dengan kesehatan. Padahal, farmakognosi sebenarnya menjadi mata pelajaran yang sangat spesifik dibidang kesehatan dan farmasi. Masyarakat telah mengetahui khasiat dari opium (candu), kina, kelembak, penisilin, digitalis, insulin, tiroid, vaksin polio, ddan sebagainya. (Sri mulyani, dkk. 2004).

2.2.2  Ruang lingkup Pemeriksaan Farmakognostik

     2.2.2.1 Identifikasi dan determinasi Tumbuhan

    Dalam melakukan suatu determinasi tanaman itu membutuhkan alat-alat khusus dalam mengolah tanaman bandotan tersebut di samping itu bahan-bahan tumbuhan tidak lupa pula untuk turut disertakan dalam penentuan determinasi ini yang meliputi beberapa eksemplar yang kalau dikumpulkan member gambaran yang lebih lengkap.

Menentukan kunci determinasi tanaman dilakukan berdasarkan bentuk morfologi tanaman melalui uraian tanaman atau cirri-ciri umum tanaman secara lengkap serta tak lupa pula dari segi pengelompokkan atau klasifikasi tanaman yang mempermudah dalam menentukan kunci determinasi tanaman tersebut.

Dalam praktikum ini pula bertujuan untuk membuat herbarium baik itu herbarium basah maupun herbarium kering. Adapun pengertian dari herbarium adalah penyimpanan dan pengawetan tumbuhan. Untuk herbarium kering perlakuannya disimpan dalam keadaan kering sedangkan herbarium basah disimpan dalam keadaan basah dengan cairan tertentu.

Pembuatan herbarium tanaman dilakukan dengan mengumpulkan seluruh bagian tanaman yang utuh (akar, batang, daun), termasuk bagian-bagian khusus tanaman seperti bunga, buah dan bij,bila tidak dikumpulkan secara lengkap akan susah untuk mengidentifikasinya serta jangan sekali-kali mengambil tanaman pada waktu yang berbeda kemudian dikumpulkan menjadi satu, itu akan membuat herbarium memberikan hasil yang tidak baik (Vansteenis,1972).

Herbarium kering adalah tumbuhan yang diambil akarnya dan dibersihkan dengan air, setelah kering kita masukkan kedalam lipatan kotan kemudian tumbuhan diatur sedemikian rupa, jangan sampai ada yang rusak pada baian tumbuhan , daun diatur agar terlihat permukaan daun atas dan bawah kemudian dipress herbarium diatas kertas Koran dengan kemudian dikeringkan pada sinar matahari atau dipanaskan dalam oven listrik pada suhu 60-70 o C sampai materi kering dan siap untuk ditempel pada karton herbarium.

Herbarium basah umumnya jenis Bryophyta dan larutan yang Anatomi tanaman digunakan adalah alcohol 70%m, formalin 4% atau FAA (Formalin, Alkohol 70% dan Asetat perbandingan 50:500:900 ml) (Vanstennis,1972).

2.2.2.2 Morfologi Tumbuhan

Bandotan tergolong ke dalam tumbuhan terna semusim,tumbuh tegak atau bagian bawahnya berbaring,tingginya sekitar 30-90 cm,dan bercabang.

Batangnya bulat berambut panjang,Jika menyentuh tanah akan mengeluarkan akar.

Daunnya bertangkai,letaknya saling berhadapan dan bersilang (compositae),helaian daun bulat telur dengan pangkal membulat dan ujung runcing,tepi bergerigi,panjang 1-10 cm,lebar 0,5-6 cm,kedua permukaan daun berambut panjang dengan kelenjar yang terletak di permukaan bawah daun,warnanya hijau.

Akar tumbuhan bandotan ini adalah berakar tunggang dan tumbuhan bandotan ini merupakan tumbuhan dikotil.

Bunganya bermajemuk berkumpul 3 atau lebih,berbentuk malai rata yang keluar dari ujung tangkai,warnanya putih. Panjang bonggol bunga 6-8 mm,dengan tangkai yang berambut.

Buahnya berwarna hitam dan bentuknya kecil. Daerah distribusi,Habitat dan Budidaya Bandotan dapat diperbanyak dengan biji. Bandotan berasal dari Amerika tropis. Jika daunnya telah layu dan membusuk,tumbuhan ini akan mengeluarkan bau tidak enak.

2.2.2.3 Anatomi Tumbuhan

Tumbuhan bandotan ini merupakan tumbuhan dikotil dengan xylem primer terletak di pusat akar dan berbentuk seprti bintang, sedangkan floem primer terletak di sebelah luar xylem primer. Mempunyai tipe kolateral terbuka (antara xylem dan floem terdapat cambium).

Batang tumbuhan bandotan ini mempunyai xylem dan floem yang terdapat di stele, tersusun seperti cincin dengan floem terletak di sebelah luar xylem.

Pada penampang melintang melalui tulang daun tampak epidermis atas terdiri dari 1 lapis sel berbentuk segi empat, kutikula tebal berbintik-bintik,stomata sedikit, rambut penutup terdiri dari 2 sel sampai 5 sel. Epidermis bawah terdiri dari satu lapis sel berbentuk segi empat, kutikula tebal berbintik-bintik, stomata lebih banyak daripada epidermis atas, rambut penutup terdiri dari 2 sel sampai 5 sel, lebih banyak dari epidermis atas. Mesofil meliputi jaringan palisade terdiri dari 1 lapis sel, jaringan bunga karang terdiri dari 3 tau 4 lapis sel,terdapat sel sekresi dan sel yang berisi tetes minyak. Berkas pembuluh tipe kolateral. Pada sayatan paradermal tampak epidermis atas dan epidermis bawah berbentuk tidak beraturan, dinding bergelombang, stomata tipe anomisitik.

2.2.2.4 Identifikasi Kandungan Kimia Tumbuhan (Asni, 2009)

1. Uji dengan reaksi warna dilakukan terhadap hasil penyaringan zat berkhasiat baik sebagai hasil mikrosublimasi atau langsung terhadap irisan serbuk simplisia (uji histokimia) dan ekstrak, meliputi uji lignin, seberin, kutin, minyak lemak, minyk atsiri, getah dan resin, pati dan aleuron, lender dan pectin, selulosa, zat zamak atau tannin dan katekol, dioksiantrakinon bebas, fenol,saponin, flvanoid, karbohidrat, glikosida, glikosida antrakinon dan steroid contohnya : asam sinamat dipasahkan dalam bentuk Kristal dari tolu balsam setelah didihkan dengan air kapur + HCl + kalium permanganate terbentuk benzaldehid.

2. Uji reaksi pengendapan dilakukan dengan melihat warna endapan yang terjadi contohnya uji alkaloid

3. Mikrosubmasi untuk konstituen mudah menyublin dalam bentuk Kristal di lakukan uji KLT dan reaksi warna

2.2.2.5 Pemeriksaan Mutu dan Standarisasi

Pemeriksaan mutu simplisia terdiri atas pemeriksaan ( MMI Edisi V,1995) :

  1. Organoleptik, yaitu pemeriksan warna, bau, dan rasa  bahan/simplisia.  
  2. Makroskopik, yaitu memuat uraian makroskopik  mengenai bentuk ukuran, warna, dan bidang patahan/irisan.
  3. Mikroskopik, yaitu membuat paparan anatomis,    penampang melintang simplisia, fragmen pengenal    serbuk simplisia, meliputi uraian mengenai:

    1. Jaringan pada batang, akar, dan daun, terdiri dari:

    a. Jaringan primer (epidermis, corteks, endodermis,     caspari, perisikel, silinder pusat dan empelur).

    b. Jaringan sekunder (periderm, felogen, dan ritidom).

    c. Perubahan susunan silinder pusat

    2.  Jaringan pada daun, terdiri dari :

    a.  Tipe stomata.

    b.   Jenis rambut (rambut penutup, dan rambut kelenjar).

  3  Jaringan pada daun, batang, dan akar terdiri dari :

a.   Tipe idioblas,

b    Tipe sel sklerenkim

2.3     Tinjauan Tentang Simplisia

     2.3.1 Pengertian Simplisia (Ditjen POM, 1979)

Pengertian simplisia menurut Farmakope Indonesia Edisi III, adalah bahan alam yang digunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapaun juga kecuali dinyataka lain berupa bahan yang telah dikeringkan

    2.3.2 Penggolongan Simplisia

Simplisia terbagi 3 golongan yaitu :

  1. Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman dan eksudat tanaman. Eskudat tanaman ialah isi yang spontan keluar dari tanaman atau isi sel yang dikeluarkan dari selnya, dengan cara tertentu atau zat yang dipisahkan dari tanamannya dengan cara tertentu yang masih belum berupa zat kimia murni.
  2. Simplisia hewani adalah simplisia berupa hewan utuh, bagian hewan atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa zat kimia murni.
  3. Simplisia mineral adalah simplisia yang berupa bahan pelican (mineral) yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni.

Selain ketiga jenis simplisia diatas juga terdapat hal lain, yaitu benda organic asing yang disingkat benda asing, adalah satu atau keseluruhan dari apa-apa yang disebut dibawah ini :

  1. Fragmen, merupakan bagian tanaman asal simplisia selain bagian tanaman yang disebut dalam paparan makroskopik, atau bagian sedemikian nilai batasnya disebut monografi.
  2. Hewan hewan asing, merupakan zat yang dikeluarkan oleh hewan, kotoran hewan, batu tanah atau pengotor lainnya.

Kecuali yang dinyatakan lain, yang dimaksudkan dengan benda asing pada simplisia nabati adalah benda asing yang berasal dari tanaman. Simplisia nabati harus bebas serangga, fragme hewan, atau kotoran hewan tidak boleh menyimpang bau dan warnanya, tidak boleh mengandung lendir, atau cendawan, atau menunjukkan adanya zat pengotor lainnya; pada perhitunganpenetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam, kadar abu yang larut dalam air , sari yang larut dalam air, atau sari yang larut dalam etanol didasarkan pada simplisia yang belum ditetapkan susut pengeringannya.

Sedangkan susut pengering sendiri adalah banyaknya bagian zat yang mudah menguap termasuk air, tetapkan dengan cara pengeringan, kecuali dinyatakan lain, dilakukan pada suhu 150o hingga bobot tetap.

Agar simplisia yang kita butuhkan bermutu baik, maka dilakukan pemeriksaan mutu simplisia yang bertujuan agar diperpoleh simplisia yang memenuhi persyaratan umum yang ditetaokan oleh Depkes RI dalam buku resmi seperti materi medika Indonesia, Farmakope Indonesia, dan ekstra Farmakope Indonesia. Pemeriksaan mutu simplisia, terdiri dari pemeriksaan.

2.3.3  Cara Pembuatan Simplisia (Ditjen POM, 1985)

Pembuatan simplisia merupakan proses memperoleh simplisia dari alam yang baik dan memenuhi syarat-syarat mutu yang dikehendaki

  1. Teknik pengumpulan

    Pengumpulan atau panen dapat dilakukan dengan tangan atau menggunakan alat (mesin). Apabila pengambilan dilakukan secara langsung (pemetikan) maka harus memperhatikan keterampilan si pemetik, agar diperoleh tanaman/bagian tanaman yang dikehendaki, misalnya dikehendaki daun yang muda, maka daun yang tua jangan dipetik dan jangan merusak bagian tanaman lainnya. misalnya jangan menggunakan alat yang terbuat dari logam untuk simplisia yang mengandung senyawa fenol dan glikosa.

    1. Waktu pengumpulan atau panen

      Kadar kandungan zat aktif suatu simplisia ditentukan oleh waktu panen, umur tanaman, bagian tanaman yang diambil dan lingkungan tempat tumbuhnya,

      Pada umumnya waktu pengumpulan sebagai berikut :

      1. Daun dikumpulkan sewaktu tanaman berbunga dan sebelum buah menjadi masak, contohnya, daun Athropa belladonna mencapai kadar alkaloid tertinggi pada pucuk tanaman saat mulai berbunga. Tanaman yang berfotosintesis diambil daunnya saat reaksi fotosintesis sempurna yaitu pukul 09.00-12.00.
      2. Bunga dikumpulkan sebelum atau segera setelah mekar.
      3. Buah dipetik dalam keadaan tua, kecuali buah mengkudu dipetik sebelum buah masak.
      4. Biji dikumpulkan dari buah yang masak sempurna.
      5. Akar, rimpang (rhizome), umbi (tuber) dan umbi lapis (bulbus), dikumpulkan sewaktu proses pertumbuhannya berhenti.

      b.     Bagian Tanaman

      1.     Klika batang/klika/korteks

      Klika diambil dari batang utama dan cabang, dikelupas dengan ukuran panjang dan lebar tertentu, sebaliknya dengan cara berselang-seling dan sebelum jaringan kambiumnya, untuk klika yang mengandung minyak atsiri atau senyawa fenol gunakan alat pengelupas yang bukan terbuat dari logam.

      2.     Batang (caulis)

      Batang diambil dari cabang utama sampai leher akar, dipotong-potong dengan panjang dan diameter tertentu.

      3.     Kayu (Lignum)

      Kayu diambil dari batang atau cabang, kelupas kuliltnya dan potong-potong kecil.

      4.     Daun (Folium)

      Daun tua atau muda (daun kelima dari pucuk) dipetik satu persatu secara manual.

      5.     Bunga (Flos)

      Tergantung yang dimaksud, dapat berupa kuncup atau bunga mekar atau mahkota bunga atau daun bunga, dapat dipetik langsung dengan tangan.

      6.     Akar (Radix)

      Bagian yang digunakan adalah bagian yang berada di bawah permukaan tanah, dipotong-potong dengan ukuran tertentu.

      7.     Rimpang (Rhizoma)

      Tanaman dicabut, rimpang diambil dan dibersihkan dari akar, dipotong melintang dengan ketebalan tertentu.

      8.     Buah (Fructus)

      Dapat berupa buah yang masak, matang atau buah muda, dipetik dengan tangan

      9.     Biji (Semen)

      Buah yang dikupas kulit buahnya menggunakan tangan atau alat, biji dikumpulkan dan dicuci.

      10.    Bulbus

      Tanaman dicabut, bulbus dipisahkan dari daun dan akar dengan memotongnya.

2.     Pencucian dan Sortasi Basah

Pencucian dan sortasi basah dimaksudkan untuk membersihkan simplisia dari benda-benda asing dari luar (tanah, batu dan sebagainya), dan memisahkan bagian tanaman yang tidak dikehendaki. Pencucian dilakukan bagi simplisia utamanya bagian tanaman yang berada di bawah tanah (akar, rimpang,), untuk membersihkan simplisia dari sisa-sisa tanah yang melekat.

3.     Pengeringan

Tujuan pengeringan pada tanaman atau bagian tanaman adalah :

  1. Untuk mendapatkan simplisia yang awet, tidak rusak dan dapat digunakan dalam jangka relative lama.
  2. Mengurangi kadar air, sehingga mencegah terjadinya pembusukan oleh jamur atau bakteri karena terhentinya proses enzimatik dalam jaringan tumbuhan yang selnya telah mati. Agar reaksi enzimatik tidak dapat berlangsung, kadar air yang dainjurkan adalah kurang dari 10 %.
  3. Mudah dalam penyimpanan dan mudah dihaluskan bila ingin dibuat serbuk.

a.     Pengeringan alamiah

Tergantung dari kandungan zat aktif simplisia, pengeringan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :

  1. Sinar matahari langsung, terutama pada bagian tanaman yang keras (kayu, kulit biji, biji dan sebagainya) dan mengandung zat aktif yang relative stabil oleh panas)
  2. Diangin-anginkan dan tidak terkena sinar matahari secara langsung, umumnya untuk simplisia bertekstur lunak (bunga, daun dan lain-lain) dan zat aktif yang dikandungnya tidak stabil oleh panas (minyak atsiri).

b.     Pengeringan buatan

Cara pengeringan dengan ,menggunakan alat yang dapat diatur suhu, kelembaban, tekanan atau sirkulasi udaranya.

2.3.4 Pemeriksaan Mutu Simplisia

Pemeriksaan mutu simplisia terdiri atas : (Amin, 2009)

  1. Identifikasi meliputi pemeriksaan
    1. Organoleptik, yaitu pemeriksaan warna, bau dan rasa dari bahan simplisia. Dalam buku resmi dinyatakan pemerian yaitu memuat paparan mengenai bentuk dan rasa yang dimaksudka untuk dijadikan petunjuk mengenal simplisia nabati sebagai syarat baku.
    2. Mikroskopik, yaitu membuat uraian mikroskopik paparan mengenai bentuk ukuran, warna dan bidang patahan atau irisan.
    3. Mikroskopoik yaitu membuat paparan anatomi penempang melintang simplisia fragmen pengenal serbuk simplisia.
    4. Tetapan fisika, melipti pemeriksaan indeks bias, bobot jenis, titik lebur, rotasi optic, mikrosublimasi, dan rekristalisasi.
    5. Kimiawai, meliputi reaksi warna, pengendapan, penggaraman, logam, dan kompleks.
    1. Biologi, meliputi pemeriksaan mikrobiologi seperti penetapan angka kuman, pencemaran, dan percobaan terhadap hewan.
  1. Analisis bahan meliputi penetapan jenis konstituen (Zat kandungan), kadar konstituen (Kadar abu, kadar sari, kadar air, kadar logam), dan standarisasi simplisia.
  2. Kemurnian, meliputi kromatografi: kinerja tinggi, lapis tipis, kolom, kertas, dan gas untuk menentukan senyawa atau komponene kimia tunggal dalam simplisia hasil metabolit primer dan sekunder tanaman

2.4 Identifikasi Kandungan Kimia Simplisia Secara Kemotaksonomi

2.3.1 Penggolongan Tanaman berdasarkan Kemotaksonomi (uraikan tentang penggolongan tanaman berdasarkan suku/familinya,disertai rumus struktur tiap golongan)

Pengolongan tumbuhan bandotan ini mrupakan suku atau family compositae atau asteraceae atau tumbuhan yang mempunyai daun bersilang dan berhadapan. Bandotan ini merupakan herba terna semusim,tegak atau berbaring dan dari bagian ini keluar akarnya. khususnya di Indonesia tumbuhan ini merupakan tumbuhan pengganggu yang terkenal.

2.3.2 Kegunaan Umum Tanaman Berdasarkan Kemotaksonomi

Kegunaan Umum dari tanaman bandotan ini adalah mengobati luka luar dengan cara daun-daunnya digulung kecil lalu ditempelkan pada luka.


2.3.3 Cara mengidentifikasi Kandungan Kimia Simplisia (Berdasarkan Literatur MMI/FI/Handbook lain).


a. Reaksi warna

1. Pada 2 mg serbuk daun tambahkan 5 tetes asam sulfat P, terjadi warna coklat kehijauan.

2. Pada 2 mg serbuk daun tambahkan 5 tetes asam sulfat 10 N, terjadi warna hijau tua.

3. Pada 2 mg serbuk dau tambahkan 5 tetes larutan natrium hidroksida P 5% b/v dalam etanol, terjadi warna hijau.

4. Pada 2 mg serbuk daun tambahkan 5 tetesamonia (25%) P, terjadi warna coklat kehijauan.

5. Pada 2 mg serbuk daun tambahkan 5 tetes larutan besi (III) klorida P 5% b/v, terjadi warna hijau kecoklatan.

b. Reaksi pengendapan


Alkaloid Merupakan senyawa organic yang mengandung unsure nitrogen dan bersifat basa. Senyawa ini dijumpai pada golongan tanaman leguminosae, rubiaceae, ladoceae,dan liliaceae. Untuk menentukan adanya alkaloid maka ditimbang 500 mg serbuk simplisia, tambahkan 1 ml asam klorida 2 N dan 9 ml air, panaskan di atas penangas air selama 2 menit, dinginkan dan saring, pindahkan masing-masing 3 tetes filtrate pada dua kaca arloji:

  1. Tambahkan 2 tetes mayer LP pada kaca arloji pertama, terbentuk endapan menggumpal berwarna putih
    1. Tambahkan 2 tetes bouchardat LP pada kaca arloji kedua, terbentuk endapan berwarna coklat sampai hitam
  1. Kromatografi Lapis Tipis

    Kromatografi lapis tipis adalah salah satu teknik pemisahan komponen kimia dengan prinsip adsorpsi dan partisi menggunakan lempeng berukuran 3 x 7 cm, yang dilapisi oleh silica gel sebagai fase adsorben atau disebut fase diam dan eluen berupa campuran beberapa pelarut atau fase gerak yang dapat memisahkan senyawa kimia yang dapat memisahkan senyawa kimia dengan baik.


 


 

BAB III

           KERANGKA KONSEPTUAL, HIPOTESIS DAN SKEMA KERJA

3.1       Kerangka Koseptual


Obat tradisional Bandotan aktivitas farmakologi

Indonesia                  mengobati luka


 


 

             Pemeriksaan

                 Farmakognosi     Bioaktivitas Praklinik

                                 Invitro dan invivo


 

    
 

                Kandungan Kimia

                dan Identifikasi

                Kemotaksonomi


 


 


 

                Pengembangan

                Obat tradisional

        dan Fitofarmako


 


 

             Gambar. 3.1 Skema kerangka konseptual Bandotan


 

  1. Hipotesis

    Berdasarkan hasil pemeriksaan farmakognostik Bandotan (Ageratum conyzoides) diduga mengandung asam amino, organacid, pectic substance, minyak atsiri, kumarin, ageratochromene, friedelin, β-sitosterol, stigmasterol, tanin, sulfur, dan potassium klorida. Akar mengandung minyak atsiri, alkaloid, dan kumarin. Dari pemeriksaan morfologi tumbuhan Bandotan (Ageratum conyzoides) tergolong dalam kelas dikotil, berakar tunggang, berbatang monopodial, berdaun tunggal dan secara anatomi Bandotan (Ageratum conyzoides) memiliki epidermis dengan tipe stomata anisositik dan berkas pembuluh pada batang kolateral terbuka.

3.3    Skema Kerja


 

Bandotan (Ageratum conyzoides)

        

Panen /Pengumpulan

Panen / Pengumpulan

        

                                  Bahan segar

  Herbarium Basah                     


 

    

Anatomi         Pembuatan Simplisia     Morfologi                       

  • Sortasi Basah                     Organoleptik
  • Pencucian
  • Perajangan
  • Pengeringan
  • Pewadahan


 


 

Simplisia


 


 

Organoleptik Mikroskopik                                                                                                             


 


 


 


 


 


 


 

                                 


 


 

                        

l             Pembahasan


 

Kesimpulan

        


 


 


 


 

BAB IV


 

MATERI DAN METODE PRAKTIKUM

4.1  Bahan, Alat dan Instrumen Praktikum

       4.1.1 Bahan tumbuhan

Tumbuhan Bandotan (Ageratum conyzoides)

       4.1.2 Bahan Kimia

  1. Formalin,                 
  2. FeCl3 P                
  3. KOH 10 %                
  4. HCL + meyer bouchardt
  5. Liebermen bouchardt
  6. Iod 0,1 N
  7. FeCl3 1 N
  8. Etanol

    4.1.3   Alat

  1. Botol semprot
  2. Cawang porselin
  3. Cutter
  4. Deg gelas
  5. Handscun
  6. Jarum preparat
    1. Mikroskop
    2. Objek gelas
    3. Penjepit
    4. Pinset
    5. Pipet tetes
    6. Pensil warna
    7. Silet gold

4.2  Lokasi Praktikum

  1. Tempat Pengambilan sampel di Desa Ujung Bori, Kec.Bulukunyi, Kab.Takalar.
  2. Pemeriksaan Morfologi dan anatomi serta uji kimia dilakukan di Laboratorium farmakognosi, fakultas farmasi Universitas Muslim Indonesia.

4.3 Prosedur Praktikum

4.3.1 Pemeriksaan Farmakognostik

     4.3.1.1 Identifikasi dan Determinasi Tanaman

        Menentukan kunci determinasi tanaman dilakukan berdasarkan bentuk morfologi melalui pendekatan hubungan kekerabatan tanaman ( suku dan genus) kunci determinasi tanaman sebagai mana yang dicantumkan dalam buku resmi (FLORA OF JAVA,atau FLORA).

4.3.1.1.1  Morfologi Tumbuhan

Mengamati dan menggambar bentuk morfologi dari tanaman, yaitu berupa bentuk batang, daun, dan akar .

4.3.1.1.2   Anatomi Tumbuhan

  Pemeriksaan anatomi di Laboratorium, yaitu anatomi akar, batang, dan daun serta mencari bentuk stomata dengan membuat preparat setipis mungkin diatas objek glass yang ditutupi deg glass dengan ditetesi air atau kloralhidrat, dan diamati serta digambar anatominya dibawah mokroskop.

4.3.1.2  Pemeriksaan Simplisia        

4.3.1.2.1  Pengambilan Simplisia

Pengumpulan simplisia dilakukan dengan menggunakan pisau dan tangan yang telah dilapisi dengan kaos tangan karena Bandotan (Ageratum conyzoides)memiliki batang yang keras sehingga pengambilan harus hati-hati.

4.3.1.2.2  Pembuatan Simplisia

Simplisia    yang     telah   dikumpulkan, dicuci untuk membersihkan simplisia dari kotoran atau debu dan memisahkan tanaman itu sendiri yang tidak dikehendaki saat pencucian. Setelah dicuci dan dibersihkan dari debu dan kotoran, sampel dipotong kecil-kecil kemudian dikeringkan. Pengeringan yang digunakan pada percobaan ini ialah pengeringan alamiah yakni dengan bantuan sinar matahari, atau diangin-anginkan. Untuk bagian tanaman yang keras, seperti batang dan akar pengeringan dilakukan di bawah sinar matahari. Untuk bagian tanaman yang lunak seperti daun cukup diangin-anginkan.

  4.3.1.2.3 Pemeriksaan Mutu Simplisia


 

  1. Organoleptis yaitu pemeriksaan warna, bau, dan rasa dari bahan / simplisia. Dari simplisia yang telah dibuat, diamati warnanya, baunya
  2. Makroskopik yaitu memuat paparan mengenai bentuk dari simplisia, ukuran, warna serta bidang patahannya.

    c.  Mikroskopik yakni memuat paparan anatomis,  penampang melintang simplisia, fragmen pengenal      bentuk simplisia.

4.3.2 Identifikasi Kandungan Kimia    

   4.3.2 Identifikasi Kandungan Kimia    

                    4.3.2.1 Pati dan aleuron

  1. Dimasukkan serbuk sampel ke dalam tabung reaksi
    1. Ditambahkan dengan larutan Iod 0,1 N sebanyak 1-3 tetes apabila berwarna biru mengandung pati dan kalau berwarna kuning coklat mengandung aleuron

4.3.2.2 Zat samak / tannin    

  1. Dimasukkan serbuk sampel ke dalam tabung reaksi
  2. Ditambahkan dengan larutan (FeCl3 ) sebanyak 1-3 tetes apabila berwarna biru hitam mengandung taninl 
  1. Katekol
    1. Dimasukkan serbuk sampel ke dalam tabung reaksi
    1. Ditambahkan dengan larutan (FeCl3 ) sebanyak 1-3 tetes apabila berwarna hijau mengandung katekol

4.3.2.4    Dioksiantrakinon

  1. Dimasukkan serbuk sampel ke dalam tabung reaksi
  2. Ditambahkan dengan larutan (KOH 10% etanol) sebanyak 1-3 tetes apabila berwarna merah mengandung dioksiantrakinon

 4.3.2.5  Fenol

  1. Dimasukkan serbuk sampel ke dalam tabung reaksi
  2. Ditambahkan dengan larutan (FeCl3 P ) sebanyak 1-3 tetes apabila berwarna biru hitam mengandung fenol.

4.3.2.6   Steroid

  1. Dimasukkan serbuk sampel ke dalam tabung reaksi
  2. Ditambahkan dengan larutan Lieberman bouchardat sebanyak 1-3 tetes apabila berwarna merah atau merah jambu mengandung steroid
  1. Alkaloid

    a. Dimasukkan serbuk sampel ke dalam tabung reaksi

    b. Ditambahkan dengan larutan HCl + Meyer bouchardat   sebanyak 1-3 tetes apabila terbentuk putih mengandung    alkaloid

BAB V

H A S I L

  1. Identifikasi dan Determinasi tanaman

    Kunci    Determinasi :

1b..2b...3b...4b...6b...7b...9b...10b...11b...12b...13b...14b...15a...109b...119b...120a...121a...122a...(Asteraceae).

  1. Morfologi Tanaman


     


     


     


     

    3

    Gambar 5.2.1 Ketapang (Terminalia catappa)

    Keterangan :

    1. Bunga

    2. Daun

    3. Buah

1. Daun (Folium)

Daun lengkap merupakan daun yang terdiri atas upih daun (vagina), tangkai daun (petiolus) dan helaian daun (lamina). Sedangkan Ageratum conyzoides disebut daun yangs tidak lengkap karena daunnya hanya terdiri atas helaian daun (lamina) dan tangkai daun (petiolus).

Ageratum conyzoides memiliki bentuk tangkai daun seperti bentuk tangkai daun tumbuhan pada umumnya, yaitu berbentuk silinder dengan sisi agak pipih dan menebal pada pangkalnya. Untuk helaian daunnya, daun Ageratum conyzoides dapat dideskripsikan sebagai berikut:

  1. Bangun/Bentuk Daun (circumscriptio)

    Jika daun digolongkan berdasarkan letak bagian yang terlebar, maka daun Ageratum conyzoides termasuk dalam daun dengan bagian terlebar terdapat di atas tengah-tengah helaian daun dengan bentuk bangun daun bulat telur sungsang (obovatus), yaitu seperti bulat telur tetapi bagian yang terlebar terdapat dekat ujung daun.

  2. Ujung Daun (apex folii)

    Bentuk ujung daun yang dimiliki Ageratum conyzoides adalah tumpul (obtusus), yaitu tepi daun yang semula agak jauh dari ibu tulang, cepat menuju ke suatu titik pertemuan hingga terbentuk suatu sudut yang tumpul.

  3. Pangkal Daun (basis folii)

    Pangkal daun Ageratum conyzoides memiliki bentuk yang tumpul (obtusus).

  4. Susunan Tulang-tulang Daun

    Melihat arah tulang-tulang cabang yang besar pada helaian daun, maka berdasarkan susunan tulangnya, Ageratum conyzoides tergolong daun yang bertulang menyirip (penninervis), yaitu daun yang mempunyai satu ibu tulang yang berjalan dari pangkal ke ujung dan merupakan terusan tangkai daun.

  5. Tepi Daun (margo folii)

    Secara garis besar tepi daun dibedakan menjadi 2, yaitu tepi daun yang rata dan tepi daun yang bertoreh. Tepi daun Ageratum conyzoides sendiri memiliki tepi daun yang rata.

  6. Daging Daun (intervenium)

    Daging daun merupakan bagian daun yang terdapat diantara tulang-tulang daun dan urat-urat daun. Geatum conyzoides memiliki daging daun yang seperti perkamen, yaitu tipis tetapi cukup kaku.

  7. Warna Daun

    Seperti pada umumnya, daun Ageratum conyzoides berwarna hijau. Namun pada musim kamarau/gugur warnanya berubah ada yang berwarna kuning kecoklatan ada pula yang berwarna merah kecoklatan.

  1. Permukaan Daun

    Permukaan daun pada setiap tumbuhan tidak selalu sama, untuk Ageratum conyzoides sendiri, permukaan daunnya licin (laevis).

2.Batang (Caulis)

Batang bulat, berambut panjang, dan akan mengeluarkan akar.

  1. Arah Tumbuh Batang

Untuk arah tumbuh batangnya, Ageratum conyzoides memiliki arah tumbuh batang yang tegak lurus (erectus), yaitu memiliki arah lurus ke atas.

  1. Percabangan Pada Batang

    Percabangan pada Ageratum conyzoides termasuk ke dalam percabangan monopodial karena batang pokoknya selalu tampak lebih jelas maksudnya lebih besar dan lebih panjang dari pada cabang-cabangnya. Sedangkan untuk arah tumbuh cabangnya, Ageratum conyzoides memiliki cabang yang mendatar (horizontalis), yaitu antara cabang dan batang pokok memebentuk sudut 90oC .

    3.Akar (Radix)

    Ageratum conyzoides termasuk ke dalam tumbuhan dikotil sehingga sistem perakarannya adalah sistem akar tunggang (radix primaria), yaitu terdapat akar pokok yang bercabang-cabang menjadi akar-akar yag lebih kecil. Jika melihat dari percabangan dan bentuknya, maka akar Ageratum conyzoides termasuk ke dalam akar tunggang yang bercabang (ramosus), yaitu akar tunggang yang berbentuk kerucut panjang, tumbuh lurus ke bawah, bercabang-cabang banyak sehingga memberi kekuatan yang lebih lagi kepada batang dan juga daerah perakaran menjadi sangat luas selain itu daya serap terhadap air dan zat makanan menjadi lebih besar.

    4.Bunga (Flos)

    Bunga majemuk berkumpul 3 atau lebih berbentuk malai rata, keluar dari ujung tangkai, warna putih dan ungu, panjang bonggol bunga antara 6-8 mm dan tangkai berambut.

5.Buah (Fructus)

Buah berwarna hitam dan berbentuk kecil.


 

  1. Anatomi Tanaman
    1. Anatomi daun 1


    3

Gambar. 5.3.1 Penampang melintang daun

     Epidermis berbentuk papilla dengan permukaan yang lebih rendah. Dengan cambium pada dinding sel. Hipodermisnya ada di bawah sebelah atas epidermis. Stomatanya ranunculaceous biasanya permukaannya lebih rendah tapi ada di sebelah atas. Hedatoda tersimpan dalam laguncularia dan lumnitzera. Sklerenkim membentuk serat bercabang dari vena dan meluas secara tidak teratur ke suluruh tumbuhan. Mesofil jarang ditemukan. Cabang yang lebih besar biasanya bikolateral yang dikelilingi cincin atau yang ditemani oleh sklerenkim.

2. Anatomi Batang    


 


 


 


 

    


 

Gambar 5.3.2 : Penampang melintang batang Bandotan

Perisikel biasanya berisi untaian serat yang terletak pada sebelah dalam parenkim. Floem biasanya khas dengan elemen sklerenkim yang termasuk serat yang berbentuk kamar dengan elemen cimatous dan tersusun secara tangensial seperti yang tampak pada potongan melintang. Pada batang terdiri dari epidermis, hypodermis, sklerenkim, xylem, floem, berkas pengangkut tipe bikolateral.

  1. Anatomi Akar

            


 

Gambar 5.3.3 Penampang melintang akar Bandotan

Arah pertumbuhan akar Terminalia catappa tergolong ke dalam geotropic negative. Pada coertex terdapat begitu banyak ruang interseluler. Pada akar terdapat epidermis, eksodermis, parenkim korteks, floem, dan xilem.

  1. Pemeriksaan Mutu Simplisia

    Tabel. 5.4.1 Uji Organoleptis pada Ketapang


     

Simplisia 

Warna 

Bau 

Rasa 

Ageratum radix

Cokelat 

Khas 

Pahit 

Ageratum caulis

Hijau muda

Khas 

Pahit 

Terminalia folium 

Hijau 

Khas 

Pahit 

5.5 Identifikasi Kandungan Kimia

Tabel .5.3.2 Uji identifikasi kandungan kimia


 

Pengujian 

Pereaksi 

Uji pustaka 

Uji hasil 

keterangan 

Lignin 

Fluoroglosin + HCl 

Merah 

- 

- 

Katekol 

FeCl3

Hijau 

Hijau Pekat

+

Dioksiantrakinon 

KOH 10 % + etanol 

Hijau muda

Hijau Tua

- 

Fenol 

FeCl3

Biru hitam 

-

-

Steroid 

Liberman-Bouchard 

Merah jambu 

-

- 

Pati dan aleuron 

Iodine 

Endapan kuning kecoklatan 

-

-


 


 

BAB VI

PEMBAHASAN

Farmakognosi merupakan cara pengenalan cirri-ciri atau karakteristik obat yang berasal dari bahan alam .Farmakognosi mencakup seni dan pengetahuan pengobatan dari alam yang meliputi tanaman, hewan, mikroorganisme, dan mineral. Perkembangan farmakognosi saat ini sudah melibatkan hasil penyarian atau ekstrak yang tentu akan sulit dilakukan indentifikasi zat aktif jika hanya mengandalkan mata. Dengan demikian, cara identifikasi juga semakin berkembang dengan menggunakan alat-alat cara kimia dan fisika.

Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut, yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman.

    Jamu adalah obat tradisional yang disediakan secara tradisional, yang berisi seluruh bahan tanaman yang menjadi penyusun jamu tersebut, higienis (bebas cemaran) serta digunakan secara tradisional.

    Obat herbal terstandar adalah obat tradisional yang disajikan dari ekstrak atau penyarian bahan alam yang dapat berupa tanaman obat, binatang, maupun mineral.

    Fitofarmaka adalah obat tradisional dari bahan alam yang dapat disetarakan dengan obat modern karena proses pembuatannya yang telah terstandar, ditunjang dengan bukti ilmiah sampai dengan uji klinik pada manusia dengan criteria memenuhi syarat ilmiah, protocol uji yang telah disetujui, pelaksana yang kompeten, memenuhi prinsip etika, tempat pelaksanaan uji memenuhi syarat.

Penggunaan obat tradisional yang berasal dari bahan alam telah lama dikenal dan sampai saat ini masih terus berlangsung bahkan cenderung untuk meningkat karena keampuhannya dalam mencegah, mengurangi dan mengobati berbagai macam penyakit. Sehubungan dengan hal tersebut muncul berbagai macam upaya dalam mencari dan menemukan bahan-bahan alam khususnya tanaman untuk dimanfaatkan sebagai sumber bahan obat dan usaha meminilisasi kekurangannya, salah satu caranya dengan melakukan penelitian untuk memperoleh data-data tentang tanaman obat tradisional yang dijadikan sebagai salah satu syarat standar resmi yang berlaku dalam pengolahan bahan baku tanaman obat, oleh karena itu dilakukan beberapa parameter standar mutu tanaman, dan sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah tanaman Bandotan (Ageratum conyzoides).

Adapun beberapa parameter yang dilakukan sebagai standar mutu tanaman Bandotan (Ageratum conyzoides), meliputi pemeriksaan organoleptis, pengamatan terhadap morfologi dan antomi, serta identifikasi kandungan kimia.

Berdasarkan hal tersebut, untuk Pengamatan morfologi dilakukan dengan mengamati bentuk fisik dari simplisia yakni ukuran, warna dan bentuk simplisia dan merupakan salah satu cara dalam memperkenalkan tanaman karena mengingat tanaman yang sama belum tentu mempunyai bentuk morfologi yang sama pula. Dari pemeriksaan diperoleh tanaman bandotan termasuk dalam tumbuhan dikotil yang memiliki akar tunggang, berbatang besar dan berkayu, termasuk dalam daun tidak lengkap, karena daunnya hanya terdiri atas helaian daun dan tangkai daun, warna daun hijau, dan permukaan daun yang licin, memiliki bunga yang tidak berwarna, dan buah yang berwarna hijau tetapi ketika tua berwarna merah kecoklatan.

Pengamatan anatomi dilakukan untuk mengamati bentuk sel dan jaringan yang diuji berupa sayatan melintang, membujur, dan serbuk dari simplisia. Dari pemeriksaan diperoleh pada anatomi daunnya terdiri dari epidermis, hypodermis, sklerenkim, trikoma, xilem, floem. Pada batang terdiri dari epidermis, hypodermis, sklerenkim, xylem, floem, berkas pengangkut tipe kolateral. Pada akar terdapat epidermis, eksodermis, parenkim korteks, floem, dan xilem.

    Identifikasi kandungan kimia Simplisia yang diuji berupa simplisia tunggal baik dalam bentuk rajangan, serbuk, ekstrak, yang ditambahkan dengan pereaksi tertentu, dan reaksi warna dilakukan untuk pemastian identifikasi. Dari pemeriksaan diperoleh bandotan(Ageratum conyzoides) mengandung katekol,minyak atsiri, dan alkaloid.

    Khasiat dari Bandotan (Ageratum conyzoides) yaituuntuk mengobati luka luar.

BAB VII

PENUTUP

7.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil, yaitu :

1. Dari pemeriksaan organoleptik dapat diketahui bahwa bandotan memiliki warna hijau, berasa pahit dan berbau khas

2. Setelah dilakukan reaksi identifikasi diketahui bahwa tanaman ketapang mengandung katekol, minyak atsiri, dan alkaloid.

3. Anatomi dari bandotan yakni terdapat jaringan epidermis, xylem, kortex, endodermis, floem, cambium, dan empulur, sedang pada penampang membujurnya terdapat jaringan epidermis, kortex, xylem, endodermis dan floem.

4 Pada akar, mempunyai sistem perakaran tunggang (radix primaria). Pada batang, tergolong batang berkayu (lignosus) dan sistem percabangan batangnya secara monopodial yakni batang pokok selalu tampak jelas, karena lebih besar dan lebih panjang dari cabang – cabangnya.

            Pada daun, bentuk helaian daun oval sampai memanjang (eliptico-oblongus) atau bulat telur terbalik (obovatus), tepi daun rata (integer), ujung daun terbelah (retusus), bentuk pangkal daun tumpul (obtusus), bantuk pertulangan daun menyirip (penninervis) dan susunan tata letak daunnya berseling.

Memiliki khasiat obat antara lain untuk mengobati luka luar.

7.2   Saran

    Diharapkan penelitian yang lebih lanjut mengenai tanaman Bandotan (Ageratum ocnyzoides), sehingga dapat diketahui khasiat dan kandungan kimia lain dari tanaman ini.

 

DAFTAR PUSTAKA


 

Amin, Asni dkk. 2009. Penuntun Praktikum Farmakognosi I. UMI. Makassar.

Ditjen POM. 1979.Farmakope Indoneia Edisi III. Depkes RI :Jakarta.

Rusli dkk. 2009. Tuntunan Praktek Kerja Lapang Praktikum Farmakognosi I. Universitas Muslim Indonesia : Makassar.

Sri, Mulyani dkk. 2004. Morfologi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press :., Yogyakarta.

Redaksi Agromedia,2008. Tanaman Obat. Jakarta.

Tjitrosoepomo.G, 1994. Taksonomi Tumbuhan Obat-Obatan. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.


 


 

DAFTAR LAMPIRAN


 

  1. Gambar mikroskop



     


     


     


     


     


     


     


     

  2. Peta Letak Geografis Takalar


 

  1. Gambar pipet tees


 


 



 


 


 


 


 


 


 


 


 

4    . Gambar Plat tetes


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


  1.  


 

  1. Gambar Tabung reaksi



 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

  1. Gambar sendok tanduk


 


 


 


 


 


 


 

    

    1.    


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

  1. Gambar Rak tabung



 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

  1. Anatomi Daun


  1. Anatomi Batang

    


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

  1. Anatomi Akar



 


 


 


 


 


 

2 komentar:

  1. good posting :) ,,,

    tp skdar saran, mungkin lbh bagus kalo tulisannya dag warna hitam spya lbh jelazz,

    BalasHapus
  2. postingan yg sgt brmanfaat bagi sy...
    mw bertanya ki kak :), bgmn kalau sample sy sampel X, tdk diketahui nama latinnya, bgmn carax mau buat laporanx kak??
    makasih, mohon bantuanx kak :)

    BalasHapus